Urusan membesarkan nyala api alias mengompori atawa bahasa kerennya memberi support memang sudah jadi kebiasaan Ndoro Kakung.
Lihat saja ada weblog berngaran Kekasih Gelap yang menyatakan bahwa kegiatan tulis-menulisnya tak lain dan tak bukan adalah akibat campurtangan eh dorongan dari Ndoro nya Genduk.
Kemarin, petinggi domestik tempat Genduk berkarya itu memberi komentar di salah satu posting gendukblog. Ditambah lagi komentar saat Genduk menghidangkan kopi. Begini ujarannya, “Kamu mbok kreatif dengan pekerjaanmu. Lihat ini ada Cewek Ndeso yang lebih rajin nge-blog walau pakai bahasa Jawa kaya kuek.”
Saat Genduk bertandang sejenak dengan sekali klik, ‘pemandangan’ mbatur di Hongkong lah yang tersaji. Postingannya bagus-bagus, tentang bagaimana survive di sana.
Tapi yang menjadi concern Genduk bukan hal itu. Justru statement Ndoro Kakung. Apa jangan-jangan beliau ingin mengungkapkan hal lain, ya? Semacam pernyataan tak langsung buat Genduk agar melakukan pensiun dini?
Persoalannya, bukannya Ndoro Kakung memberikan contoh weblog tentang karya seorang batur alias pekerja urusan domestik yang tinggal di luar Indonesia, bukan?
Mendadak Genduk resah gelisah. Apalagi ini kalau bukan ‘tantangan’ bahwa Genduk bisa makarya [bekerja] di manca [luar negeri] atau tidak! Dasar Ndoro Kakung!
Kalau dikaji ulang, cukup banyak tetangga Genduk berjenis kelamin perempuan yang mengadu nasib di negara manca [di luar negara sendiri]. Saat pulang, di kampung mendadak disebut sebagai wong sugih [orang kaya].
Rumah lalu disulap jadi gedong magrong-magrong [rumah tembok yang eye catching, mengacu pada strata sosial baru yang disandangnya] lalu seluruh anggota keluarganya –termasuk suami dan saudara laki-laki—dibelikan motor. Bisa membuka peluang bisnis sampingan buka ojek pula!
Dan yang tak kalah seru, penampilan para batur manca rekan-rekan Genduk itu jadi sangat up-to-date. Mulai rambut yang di-bleaching lalu diwarnai pirang, sampai yang cukup di-toning kecokelatan dengan high-light merah maroon. Ditambah lagi kecakapan berbahasa Inggris yang sedemikian gaul.
Tengah Genduk berpikir keras tentang kemungkinan maksud tersembunyi dari Ndoro Kakung, tiba-tiba kamar didodog [diketuk] dengan keras. Suara Jeng Sari nan nyaring seketika memenuhi ruangan. “Nduk! Kita gaul bareng lagi! kamu jadi asistenku selama 10 hari di Dubai. Aku dapat job men-shooting balapan di sana.”
Apa?! Genduk kaget bukan main.
Dubai? Itu ‘kan luar Indonesia alias masuk kategori manca. Sebuah tempat jauh di Semenanjung Arab sana, yang punya icon Burj al Arab. Bangunan hotel luks setinggi 321 meter desain Tom Wright berbentuk mirip layar perahu dan berdiri di atas pulau buatan, tak jauh dari pantai Jumeirah.
Mengapa ujug-ujug [tiba-tiba] ada berkah seperti ini? Lantas apa komentar Ndoro Kakung kalau Jeng Sari ‘membajak’ Genduk begini? Dan sebelum Genduk banyak cincong [cakap], sepupu penggede domestik Genduk ini memberitahu, “Nggak usah dipikirin soal ijin Ndoro, ya Nduk. Soalnya aku sudah ijin dan bilang ‘rezeki ini mending aku bagi sama Genduk, daripada saya ngajak asisten laki-laki, Mas’. Ndoro mu kasih ijin, Nduk. Dengan syarat beaya paspor dan visa dibebankan ke aku. Untungnya ya itu tadi, rezekiku cukup buat membeayai kamu!”
Sepeninggal Jeng Sari, Genduk langsung umeg [sibuk] browsing soal Dubai. Utamanya soal wisata apa saja yang ada disana, mengingat Jeng Sari doyan berpetualang. Di saat senggang kalau tak ada pekerjaan shooting, bisa dipastikan agendanya pasti jalan-jalan.
Dan wheladalah … sekali lagi Genduk ndomplong [melongo] saat mendapati betapa tempat tujuan bernama ‘Dubai’ itu kondang sebagai surga belanja. Di situ ditulis bahwa segala barang konsumen yang sedang in bisa didapat di Dubai. Termasuk di free duty shop bandaranya –yang disingkat sebagai ‘DXB’ di tiket pesawat serta name-tag bagasi.
Lebih mencengangkan lagi, saat Genduk iseng baca-baca paket wisata yang ditawarkan sebuah biro perjalanan di Singapura. Di situ tertulis paket ‘gaya hidup’. Yang ditawarkan, wisata pakai balon udara menjelajah gurun pasir dan sehari kemudian shopping seharian di mall terbesar yang ada di Dubai. Sesudahnya, pergi ke kebun binatang dengan haiwan [hewan] andalan onta serta kuda pacu Arab.
Yang membuat Genduk tak kuasa menahan senyum, di situ tertulis embel-embel, ‘Pengunjung berkesempatan menyaksikan hewan-hewan ini dari dekat’. Nah persoalannya, apakah si hewan juga tidak mendapat kesempatan yang sama? Mengendus si pengunjung dari dekat?
Padahal kalau soal kuda –onta sih tidak— di desa Genduk tidak perlu ‘menyaksikan dari dekat’. Bisa dinaiki sekaligus dielus-elus sekalian kepalanya. Hal ini tidak termasuk ‘gaya hidup’, tapi sudah bagian dari keseharian, begitu maksudnya!
Tapi mungkin lantas jadi berbeda, bila dipandang dari kacamata lain. Di mana Genduk memposisikan kuda ini sebagai alat bantu kerja di desa, sementara di paket itu adalah sebentuk dari kemewahan dari orang-orang berduit yang sampai pusing mau menghamburkan uangnya ke mana lagi! Apalagi, di sana ada shouk kuda. Semacam pasar hewan yang khusus menyajikan kuda pacuan. Harganya sudah jelas sekian ribu dirham atau masuk range ratusan juta Rupiah buat ukuran kantong Genduk.
Pagi ini, sepulang dari belanja di pasar basah –lagi-lagi seperti dibilang Ndoro Putri: kalau tidak terpaksa ke supermarket, belanja di pasar tradisional lebih ngirit— Genduk menyempatkan diri ngobrol dengan Cak Rusman. Bakul soto yang wajahnya mirip Kapolri tapi maaf, nasibnya sangat jauh berbeda!
Komentarnya spontan, “Wah, Dubai, Nduk?! Besar-besar, lho! Orang Arab, je!”
Maksud lo? Genduk selalu kesal bila komentar berbau racist atau sexiest. Dan dalam hal ini, konotasi apa lagi yang beda kalau topiknya menyangkut negeri-negeri Timur Tengah?
Tapi dasar Cak Rusman, bisa saja ngeles [berkilah]. “Maksudku ya, kalau jadi TKW di sana gajinya besar-besar jauh bila dibanding dengan hidup kita di sini.”
Lha, memangnya Genduk mau pamit nyari kerja di Dubai, apa? Wong ini topiknya ‘kan Jeng Sari mengajak Genduk ke sana!
Namun gara-gara kalimat Cak Rusman tadi, Genduk jadi pikir-pikir. Working abroad, isn’t that good? Bagaimana, Ndoro?
working abroad? halah. nggaya. ngurusi dapur disit kono, nduk ..
lho, tapi ndoro ‘kan sudah kasih ijin genduk buat pergi sama jeng sari dan mbikin paspor. ini habis pulang dari kantor imigrasi, gitu .. ganti!
nduk, jangan lupa mbawa oleh2 punuk onta buat ndoro nduk..
walahhh…
buat apa to punuk onta, Om? Ndoro kan ndak butuh subal dada, to??!
we lha dalah ana gendhuk ngrasani gendhuk
TVG gg,
soma online, buy tramadol, lorazepam, buy valium online, fioricet, hoodia, norco medication, ultram, generic ultracet, discount xenical,