Haiyah! Genduk sibuk sekali beberapa hari ke belakang. Pasalnya, Ndoro Kakung ujug-ujug dapat penugasan ke Milan, Italia, sementara Ndoro Putri sibuk dengan pekerjaan kantornya.
Jadi, Genduk pun kebagian sibuk yang melimpah. Mengingat hal-hal yang biasanya bisa dilakukan Ndoro Kakung bila sedang lega hati –seperti mencuci mobil dan membetulkan genteng— jadi mesti dikerjakan Genduk sendirian.
Apalagi sekarang ini musim hujan sudah tiba. Seng-seng dan genteng banyak bergeseran gara-gara angin yang bertiup model puting beliung dan membuat pepohonan juga ikut-ikut mentiung [miring sampai berapa derajat tertentu dengan melibatkan unsur elastisitas].
Maka lengkap sudah kesibukan Genduk hingga tidak sempat posting aneka sumpah-serapah eh aneka guneman di gendukblog tercinta.
Pagi ini [jadi ingat pada syair pembuka sebuah lagu yang bunyinya demikian, ‘malam ini kusendiri, tak ada yang menemani, seperti malam-malam, yang sudah-sudah’], Genduk mesti berbasah-basah ke pasar tradisional buat belanja, kirim beberapa paket seperti diutus Ndoro Putri, mengambil jahitan seragam Den Ayu sampai membeli sekering lampu buat Den Bagus.
Apa itu bukan ‘blessing in the disguise’ namanya, karena yang namanya Jakarta, sekali hujan, macetnya akan berkepanjangan.
Mau naik mobil Ndoro Kakung dengan menyetir sendiri? Walah, nanti disangka batur [pekerja urusan rumah tangga] tidak tahu diri. Mau naik taksi? Ndoro Kakung sebagai penggede domestik pasti bakal protes membaca laporan pengeluaran bulanan yang melonjak tajam.
Kalau diantisipasi pakai Busway? Haiyah, sama saja. Karena Oom Gubernur DKI Jakarta yang baru bikin peraturan kalau jalur Busway boleh dipakai mobil pribadi dan kendaraan umum untuk mengurangi kemacetan.
Artinya, ya sami mawon macet di tengah jalan dengan sarana transportasi Busway myway yourway itu!
Jadilah Genduk putuskan pakai ojek saja. Lebih hemat waktu yang berbanding lurus dengan cepat [dan tepat] sampai di TKP. Apalagi para ojeker Jakarta terkenal ‘gagah berani’ soal ber manouerve.
Dalam artian menyelip di antara mobil dan bus, naik trotoar [jadi potensial dikemplang pengguna pedestrian dan dilarang memarahi balik, karena memang salah, kok] sampai melanggar lampu merah di saat yang tepat [baca: kritis].
Sayangnya, Bang Joppie hari ini tak ada di pangkalan. Jadi, apa boleh baut [baca: buat], Genduk mesti menyeleksi para ojeker yang mangkal di antara derai gerimis nan romantis [Genduk, sadar toh ya, ini kamu sedang mengemban tugas, bukan seperti Ndoro Kakung yang sok romantis membuat tulisan ‘Hujan Rindu’].
Begitu terjadi kesepakatan dengan Bang Eddie [awas, yang namanya mirip jangan sensi lho, ya], Genduk pun langsung nyemplak dengan manisnya. Membonceng a’la priyayi –memangnya cuma Ndoro Kakung saja yang bisa mengklaim gayanya sungguh priyayi dalam segala hal?— dengan membawa segala perlengkapan.
Karena hujan, Genduk sudah menyiapkan handuk buat menyeka muka dan badan. Juga helm, karena takut pelindungkepala sediaan para ojeker kurang higienis, bisa mendatangkan ketombe di kulit kepala.
Selain itu, juga jaket multifungsi. Bagian luar dilapis parasut kedap air, bagian dalamnya ada lapisan bulu halus agar hangat. Kalau hari panas, bisa dibalik hingga penampilan Genduk lebih gaya.
Sesudahnya, ada sunglasses [lagi-lagi buat tindak preventif bila matahari tiba-tiba muncul] dan masker penutup wajah. Masker ini penting banget, buat menahan asap knalpot, debu dan ‘polusi’ lain dari si abang ojek akibat panas dan keringat.
Dan tentunya di atas itu semua, Genduk tak lupa membawa semua mandat Ndoro Putri, Den Ayu serta Den Bagus.
Berbincang soal penyedia jasa ojeknya sendiri, Bang Eddie tak kurang kreatif untuk menarik pelanggan. Katanya, ia juga pasang iklan sampai terima panggilan.
Seorang genduk di daerah Palmerah, menurut Bang Eddie, kerap mengkaryakannya sebagai kurir. Dari mengambil pesanan snack atau makan siang ke kantor, sampai dipercaya mengantar laptop.
Tapi cerita Bang Eddie yang tak terlupakan oleh Genduk adalah, strateginya saat masih jadi ojeker di Palembang.
Di sana, beliau berprofesi ganda sebagai calo teman kencan. Kalau penumpangnya lelaki, ia akan menawarkan ‘kembang gula’. Sementara bila client nya perempuan, Bang Eddie akan menawarkan teman kencan laki-laki!
“Dan saya tidak cuma menyalurkan, lho, Nduk,” kata Bang Eddie saat motor menikung di jalanan sedikit banjir. “Saya bahkan bersedia mengantar client ke hotel di mana teman kencan sudah cemepak [tersedia], menunggui konsumen saya itu, lalu mengantar lagi ke tujuan berikutnya.
Nggak lama kok, 1-2 jam saja sudah selesai. Habis itu bisa saya antar lagi. Cuma di sini saya belum dapet link sambilan kerja beginian. Genduk tertarik jadi client nggak, semisal saya buka sub-job penyedia teman kencan?”
Wheladalah, kok Genduk?! Bagaimana ini, Ndoro? Pronto! Parli Italiano?
nduk, nduk, kancamu sing cah cilacap kae piye? isih kencot maning?
Aduhhh, aja kaya kuek la Ndoro…
Genduk’ke kae bela2in tekan hongkong kan bot-bote ben ora kencot maning… Rela ninggal anak lan bapak’ke anak-anak. Gaul abis ya Ndor… Kalok Genduk cobak-cobak merantau nasib di negeri seberang juga, gimana ya…? Mana yang lebih cocok buat Genduk, Milan atau Arab ya Ndor?
genduk, buat pertama kali dalam sejarah gendukblog aku nggak mudeng sama komentar ndoro bedhes mu dan kamu sendiri di atas ini. boleh minta terjemahannya? matur nuwun yo, nduk
aduh jeng Ukir…
maaf ya… saking terbawa emosi takjub sama gaulnya Genduk Cilacap itu, GEnduk sampai lupa menyertakan terjemahan. biar Genduk ini lahir di kupengan Gunung Kelud yang baru saja hampir meletus itu, tapi Genduk paham juga bahasanya si Genduk Cilacap itu. dulu genduk pernah “belajar secara intensif” bahasa Genduk Cilacap. ihik..ihik… (ini maksudnya cekikikan)
wah, kok malah curhat.
bai de wei, kencot itu artinya lapar, jeng Ukir…
ini kamus singkatnya Genduk :
kuek = kuwi = begitu
maning = lagi
oalaaah …. begitu tho, nduk terjemahan [dan curhatnya sisan]. thanks a lot ya nduk. tak catet ini kamus hasil belajar intensifmu >> sama mas karyo gepeng atau penebar pesona yang lain, nih?
oalah, Ndoro nya prei posting Gendug e melu kompakan. rasa-rasanya saya kenal dengan mas ojek mu itu Nduk. dia yang dulu waktu di palembang suka nongkrong di depan hotel King ya hahaha
[...] petinggi domestik tempat Genduk berkarya itu memberi komentar di salah satu posting gendukblog. Ditambah lagi komentar saat Genduk menghidangkan kopi. Begini ujarannya, “Kamu mbok kreatif [...]
4 jeng annisha .. eh jangan salah ya, jeng
kalau genduk prei pastinya mbatur. kalo ndoro kakung, lha eng ing eng …. oh, nggak cuma di hotel king je yang mas ojek e. dianya ada di beberapa tempat plus depan pasar
[...] Genduk yang tadinya 5 tahunan, sekarang merapat jadi 1 tahunan. Udah ujhan, bechek, enggak ada ojheck [...]
numpang lewat mas…..gak papapa kakakakakan?
heheheheheh