Jadul. Apa sih definisi sesungguhnya dari akronim ‘jaman dulu’ ini? Apakah out of date? Ketinggalan jaman atau ‘warisan masa lalu’?
Kalau pria pakai celana model Jim Morrison yang mlipit ngapret [ketat] tanpa meninggalkan secelahpun bagian kombor [lega] ke arah mata kaki –dan kini jadi ‘daur ulang’ buat dipakai para fashionista perempuan ibu kota dengan nama ‘celana pensil’— lalu menirukan cara menyanyinya yang khas, dengan suara serak-basah-tapi-seksi-mirip-orang-teler, dalam lagu Riders on the Storm, apa ya bisa dibilang jadul?
Karena musisi Jaz Coleman dan violist Nigel Kennedy malahan membuatkan versi orkestra dari lagu-lagu The Doors, satu di antaranya adalah Riders on the Storm itu!
Benang merahnya, kalau celana model Jim Morrison bisa in kembali, demikian juga lagunya, nah, apakah suatu ke-jadul-an akan selamanya menjadi jadul?
Ah, entahlah! Genduk jadi pusing.
Tapi yang jelas, topik jadul ini mengemuka gara-gara, siapa lagi kalau bukan Ndoro Kakung.
Tadi malam, seperti juga malam-malam sebelumnya, Ndoro Kakung membuka pintu rumah dengan cemberut. Apalagi kalau bukan gara-gara salah satu Pak Hansip kompleks yang setiap kali jaga memutar lagu itu-itu melulu dari tape nya.
Entah di mana kini, kau beradaaaaa/Sudah kucoba, untuk mencariiiiii/
Di malam yang dingin dan sesunyi iniiiiii/Kusendiriiiiii
“Haiyah! Lagu kok nggak ganti-ganti. Seperti lagu wajib saja,” komentar Ndoro Kakung sambil duduk di sisi Ndoro Putri yang sedang duduk manis nonton teve sembari kakinya dipijiti Genduk.
Kebiasaan Ndoro Kakung sepulang dari kantor, kalau belum terlalu larut malam biasanya beranjangsana ke warung rokok dekat kompleks perumahan setelah dhahar [santap] malam.
Sebuah bentuk sosialisasi warga, gitu. Sembari ngobrol, ngudut [merokok] serta minum teh botol –karena kalau kopi Ndoro Kakung lebih suka buatan Genduk.
Nah, hal yang menyebalkan Ndoro Kakung adalah gardu Hansip di kompleks tak pernah alpa menyetel lagu dengan syair itu tadi! Berulang-ulang pula. Tak soal berapa lagu diputar, tapi kembalinya ke situ dan ke situ lagi. Seperti sebuah program berkala.
Apa lagi kalau Pak Hansip Kumis Melintang dengan badan sebesar lemari es dua pintu itu ikut bersenandung. Suaranya jauh dari merdu dan sama sekali tidak senada dengan suara sang penyanyi barang 2 atau 3 not sekalipun! Inilah yang membuat Ndoro Kakung makin sebal mendengarnya.
Entah di mana kini, kau beradaaaaa/Sudah kucoba, untuk mencariiiiii/
Di malam yang dingin dan sesunyi iniiiiii/Kusendiriiiiii
“Nostalgia sih nostalgia, jadul ya jadul. Tapi apa ya nggak ada lagu yang lain?” tanya Ndoro Kakung dengan tingkat kekesalan dan kecemberutan yang sama seperti saat baru datang tadi. “Itu namanya ronda apa sedang menunggu kekasihnya datang? Atau malah rindu nangkep maling, karena kompleks kita aman?”
“Sudah toh, Mas. Mbok ya sabar. Namanya juga hidup bertetangga. Siapa tahu Mas dulu juga senang sama lagu itu, jadi keberatan kalau ada orang lain juga suka,” sambut Ndoro Putri kalem.
“Wah, masak aku ya seneng lagu mellow begitu toh, Jeng!” sambut Ndoro Kakung berkelit. “Aku mau membuat rencana supaya Pak Hansip Kumis Melintang itu diekstradisi ke Kali Angkrik Magelang, ah!”
Ganti Genduk terpekik. “Ndoro Kakung nggak boleh gitu! Kali Angkrik ‘kan rumahnya Mas Karyo Gepeng.”
“Haisyah! Siapa itu Karyo Gepeng, Nduk?” tanya Ndoro Kakung dan Ndoro Putri hampir berbarengan.
Maka mengalirlah cerita Genduk soal Mas Karyo. Mantan kekasihnya yang berjualan bakso di seputaran kota Magelang. Karena bakso hasil buatannya berbentuk gepeng alias pipih, bukan bulat bunder kleser laiknya bakso yang umum dijajakan, maka namanya pun ikut ngetop sebagai ‘Mas Karyo Gepeng’.
“Tapi Genduk sudah putus dari dia sejak lama, karena bibir kirinya punya kutil [mata ikan] yang kenyil-kenyil [empuk membal] dan lutut kanannya punya wudun [bisul] permanen yang saban kali muncul. Jelas nggak higienis toh, Ndoro.”
“Lantas apa hubungannya antara Mas Karyo Gepeng mu, Kali Angkrik sama ekstradisinya Pak Hansip Kumis Melintang yang mellow itu, Nduk?” tanya Ndoro Kakung yang tak lagi cemberut.
“Ya nggak ada, Ndoro,” Genduk menjawab sambil terus memijiti kaki Ndoro Putri. “Genduk cuma ingin menyampaikan kritik, bahwa Ndoro Kakung ini sok modern dengan tidak mau mendengar lagu yang begituan: lagu jadul. Namanya juga selera.”
Ndoro Kakung menghela napas seperti habis kena kampleng [pukulan] sampai mentiung [tubuh jadi miring].
“Mbok ya Pak Hansip mencoba mendengarkan lagu-lagu masa kini. Misalnya seperti aku yang suka Beyonce Knowles!” tukas Ndoro Kakung. “Sudah cantik, badannya bagus, bokongnya cemokot [seksi menggigit], suaranya dahsyat pula.”
“Dasar saru [jorok]!” seru Ndoro Putri dan Genduk berbarengan. “Itu melibatkan unsur fisik namanya,” imbuh Genduk.
“Namanya juga dunia show-biz. Bisnis pertunjukan. Penampilan on-stage ‘kan jadi salah satu sarana penunjang si penyanyi biar makin dikenal pendengar dan penggemarnya, toh,” Ndoro Kakung tak mau kalah. “Kayak kamu nggak ingat konser Tata Young tempo hari saja, Nduk! Sampai tato nya Tata pun kamu ingat letaknya dimana.”
Weleh, meski malam itu Genduk adu pendapat tak juntrung sama Ndoro Kakung, tapi bukan Genduk namanya kalau tak mengupayakan yang terbaik bagi penggede domestik tempatnya mbatur.
Dengan sembunyi-sembunyi, Genduk pun menjumpai Pak Hansip Kumis Melintang. Mencari tahu mengapa lagu yang diputarnya itu-itu melulu.
“Waduh, pigimane ya Neng, saya hobinya memang lagu itu ajah,” kata Pak Hansip saat dijumpai Genduk di TKP [Tempat Kejadian Penyetelan – kaset dan lagu]. “Kalau ketemu kaset itu di Tanah Abang, saya selalu beli lagi. Buat serep, gitu! Biar jadul, selalu ngangenin kalau nggak didengar barang semalem.”
Tobat, kapan rusaknya itu kaset kalau selalu ada penggantinya?
“Apa Neng mau dengar lagu itu? Nih, saya kasih [s]atu kasetnye!”
Lha, kok begini ending nya? Ndoro, gimana nih? Mau kaset lagu Pak Hansip, nggak?!
nduk, cobak itu lagune pak hansip dikasihken ke Tata Young ato Beyonce, siapa tau ndoro bedhes kmu jadi suka
ah, si om bisa aja
tapi benar, siapa tahu bisa jadi suka, secara Ndoro nya Genduk itu maunya disebut “[sok] modern” walau kenyataannya wagu [norak] nya keliatan banget!
Nduk…….walah wis ora popo ben jadul asal cemokot!!!!
hehehheheh
Nduk, hansip itu nanti saya kampleng aja biar mbonjrot dan copot kumisnya, kekekek …
4 mas komentator 3 …. weleh, yang jadul itu tiada seperti yang dideskripsikan seperti kesenengan Ndoro Kakung di masa kini, begitu!
4 Ndoro Kakung …. Ndoro, dibilangin jangan. kasihan itu pak hansip nanti modyar tenan. “jangan macem-macem, atau guwe bikin mentiung” wekekek
baksonya mas karyo gepeng enak nduk? :p
wekekekek.. Pak Hanzip nya gantengt yak?
sik sik, saya loh ngga faham, lagu ne kuwi sing piye? sapa penyanyinya?
4 mas lemz …. waduh, nggak tahu ya, genduk vegetarian, je!
4 kiyat kiyut …. oh, sangat! makanya ndoro kakung merasa tersaingi, wekekek!
4 annisha …. duh mbak’e … cari kaset-kaset lagu pambers dan sebangsanya yang era 80-an deh
[...] katanya buat konsultasi, mereka itu rela ngantri sampai jam 1 pagi!!! Walahhh, itu berobat atau meronda [...]