Tata Young itu sukanya yang kecil. Maaf para pria, tolong ya pikiran jangan gambra-ambra [macam-macam tak juntrung] ke mana-mana.
Maksud penyanyi Thailand bernama asli Amita Marie Young itu, dia lebih suka mobil kecil tepatnya city car buat mendukung segala aktivitasnya di Bangkok, ibukota Thailand. Maklum, macetnya kota satu ini tak alang-kepalang, tidak jauh beda dari Jakarta, ibukota Indonesia.
Itu dia, hasil ‘sadapan’ alias curi dengar Genduk seusai nonton konser Tata Young yang diadakan salah satu produsen sigaret ternama Indonesia, bersamaan dengan pesta adu kreativitas merombak mobil.
Kehadiran Genduk menjumpai Mbak Tata, ouppppssss …. maksudnya hadir ke konsernya merupakan antiklimaks dari ‘jumpa pertama’ yang tidak sukses. Saat Genduk menyamar jadi asisten Ndoro Kakung untuk jumpa pers soal kedatangan Tata Young.
Semalam, Genduk dapat kesempatan kedua. Meski bukan [lagi] bermitra dengan Ndoro Kakung untuk soal ini, Genduk masih ‘punya’ Jeng Sari. Kok ndilalah [kebetulan] beliaunya dapat tugas men-shooting Mbak Tata. Ada wawancaranya pula[k].
Jadilah Genduk dapat tempat istimewa di back stage. Berkumpul dengan para penari latarnya. Empat orang, ganteng-ganteng dan bertubuh seksi pula.
Lalu Mbak Tata muncul sebagai satu-satunya perempuan di panggung. Bergaun biru sleeveless dengan aksen taburan permata warna serba silver membuatnya makin ayu. Sepatunya putih high-heels. Dan ini dia … barangkali orang-orang yang nonton dari depan dan agak jauh [maaf ya, Genduk dekat sekali soalnya!] luput memandangi tungkai kaki kirinya berhias tato gambar kupu-kupu.
Meski pakai musik minus-one, penonton tak segan bergoyang. Apalagi Mbak Tata begitu komunikatif. Menyapa pakai beberapa patah kalimat berbahasa Indonesia pula. Dan meski lagu-lagunya berirama riang, ada juga salah satu lagu ia persembahkan buat teman lamanya yang wafat tiga tahun lalu. “Tapi nggak apa-apa, kok. Jangan lantas ikut bersedih. Bisa jadi saat ini dia tengah memandangi kita semua dan ikut berdansa bersama,” tukas Mbak Tata ceria.
Salah satu hit Tata Young yang Genduk sukai, ‘Sexy, Naughty, Bitchy’ juga diperdengarkan. Jeng Sari bilang, lagu ini tak bisa melenggang masuk Malesya. “Judulnya mesti diganti, Nduk. Jadi ‘Sexy, Naughty, Cheeky’. Dan seluruh kata ‘bitchy‘ dalam syairnya otomatis harus berganti pula menjadi ‘cheeky’.”
Menyebalkan juga mendengarnya! Walau cuma sebatas kata ‘bitchy’ menjadi ‘cheeky’ –dan menggunakan ‘dalil’ [ah, kata ‘dalil’ di telinga Genduk kok mengingatkan pada dalil Phytagoras, ya?
] agar tidak ‘meracuni’ telinga anak bangsa Malesya– itu sama halnya dengan tidak menghargai artis dan pencipta lagunya! Lebih baik di-banned sekalian dengan alasan yang jelas.
Tapi tidak mengherankan kalau ‘cuma’ mengganti kata seperti ‘kasus’ lagu Mbak Tata. Lha wong lagu kita saja jelas-jelas dibajak dan diplesetkan menjadi Rasa Sayang-HE. Satu lagu, dengan birama dan not serupa! Identik secara keseluruhan.
Pantun memang [sengaja] diganti agar tidak kentara dan disebutkan bahwa salah satu seni mereka adalah berpantun!
Ya pantun nya memang bisa jadi berakar dari budaya Melayu. Tapi ritme dan nuansa lagu Rasa Sayange yang berciri lagu-lagu khas kepulauan –dalam hal ini adalah Maluku— ‘kan tidak bisa dilenyapkan begitu saja! Memang jadi males-ya kalau membicarakan negara malas berkreativitas dan menggali budayanya sendiri!
Back to the stage …. masalah ‘crucial’ terjadi saat show Tata Young usai. Para peliput yang akan masuk ke VIP room nya mesti di-screening dan sangat selektif. Apalagi kabarnya ada pemburu berita gosip yang ingin menanyakan keabsahan Mbak Tata sebagai seorang perempuan!
Haiyah, apa tho iki? Ini cuma gara-gara Tata Young kebetulan berasal dari Thailand. Negeri yang kondang dengan she-male alias lady-boy yang cantik [awas hati-hati membacanya agar tidak salah tangkap. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun, termasuk Ndoro Kakung]. Nah, jadinya perlu semacam pembuktian apakah ‘teori’ ini benar adanya.
Ya jelas Mbak Tata tersinggung berat dan tidak sudi melayani jurnalis yang ingin bertanya cece-reme [hal tidak mutu] macam begini.
Karena itu, hanya jurnalis yang sudah menyiapkan pertanyaan dengan jelas, tertulis dan diwawancarai lebih dulu oleh manager Mbak Tata yang berhak masuk ke ruang VIP. Jumlahnya pun terbatas, tak lebih dari 9 orang, termasuk cameraman, lighting man, wartawan cetak dan fotografer.
Jeng Sari beruntung, karena ia terpilih dan bahkan menjadi satu-satunya penanya untuk Mbak Tata di sesi kali itu. Bahkan wartawan lain diminta panitia titip pertanyaan untuk disuarakan sepupu Ndoro Kakung ini.
Cuma namanya Jeng Sari, orangnya lurus tanpa tedeng-aling-aling [basa-basi]. “Nduk … kamu tunggu di sini, sama mas-mas bodyguard itu, ya. Karena namamu ‘kan nggak ada di list, sedang crew televisi ku jelas-jelas ada dua orang lagi dan jelas job description nya. Karena kamu asisten pribadi ku, tempatnya ya di luar. Dan aturannya, crew televisi tidak boleh bawa kamera still photo dan sebaliknya. Fotografer tidak boleh bawa camera video. Itu artinya, aku nggak bisa membawa kamera Den Bagus masuk, Nduk!”
Yah … meski photo session dengan Tata Young yang sudah di depan mata batal, Genduk tidak kecewa. Lagi-lagi, ada pelajaran yang bisa diambil di sini.
Kalau biasanya Genduk mendengar perempuan itu hanyalah objek, justru dalam pertunjukkan Genduk melihat Tata Young sebagai bukti supremasi perempuan. Lihat saja, keempat penari latarnya yang lelaki merubung dan bahkan ada bagian tarian di mana para pejantan itu sampai berlutut dan tiarap segala.
Lalu para penonton yang mayoritas pria, mereka berteriak, tepuk tangan dan memberi applause buat siapa? Tentunya buat bintang [perempuan] di panggung bukan?
Satu lagi, soal gosip apakah Mbak Tata asli atau bukan, memang membuatnya geram. Manusiawi toh? Tapi bagaimana kiprahnya di dunia pertunjukan? Tidak berubah. Ia berusaha memberikan yang terbaik buat penontonnya. Dan menurut Genduk, gosip apakah Tata Young ‘asli’ atau bukan itu pasti dicetuskan oleh orang-orang sirik atau kurang pekerjaan. Yang mengira dunia jadi makin ‘meriah’ kalau diisi berita cece-reme tiada bermutu.
Terima kasih atas kunjungannya ya, Mbak Tata. Kalau dari jauh, wajah kita berdua nggak jauh beda, kok! Bener ‘kan Ndoro?
jadi kesimpulannya apa Nduk? Tata Young masuk kategori apa? female? shemale? male?
cewek aslilah mbak denok … cuma orang syirik aja tuh yang jahil
Ta’ kenal maka Tata Young…
maaf ya mas kabar burung, anda kena sensor dengan alasan: 1. pakai link biar komentator lain terpikat buat meng-klik ‘kan? 2. sudah dibilangi pikiran jangan gambra-ambra tapi anda bablas puol juga. jadinya ya begini.
loh, berarti sebegitu dekatnya kita waktu itu.
wis jan nasibmu enak tenan. mbok sekali2 kalo jeng-mu itu butuh asisten pribadi lagi ditawarkan ke saya gituh.
4 paman tyo … benar banget! makanya, kalau udah kenal mbak tata pasti berasa young banget lho
4 mbak annisha … lho, nonton juga, ya? masak nggak liat di belakang panggung ada siluet perempuan berjarik? itu genduk! boleh, nanti genduk sampaikan jeng sari. honor bagi dua, ya?
wow genduk yang baik. aku nggak berani bilangin ke ndoro kakung.
kalo tata dado asli bukan yaaa….:P
sebenarnya, pertanyaan yang menggelitik dari awal itu adalah kalo genduk ini asli bukan ya :p
ojo nesu loh Nduk, wong cuma nanya minta ketegasan doangan kok. hehehe ….
4 thole …. ya nggaklah …. dan tak perlu dibuktikan lagi
4 mbak annisha …. genduk cuma ingin mbak membaca posting genduk lagi soal sensi gendukblog. kalau marah dan berkoar-koar “iya memang genduk cewek asli” itu artinya malah bikin anda berpikir “berarti bukan [asli] ya”. tapi kalau genduk stay cool, situ jadi makin penasaran, ‘kan? so, welcome [dalam kebimbangan ini]
mbak genduk suka lagunya tata youg juga ya.. sama ma aku.. (tersipu malu)
[...] Kakung tak mau kalah. “Kayak kamu nggak ingat konser Tata Young tempo hari saja, Nduk! Sampai tato nya Tata pun kamu ingat letaknya [...]