Gara-gara korsleting dengan Animesh saat Genduk membantu shooting Jeng Sari di Anyer tempo hari, pikiran Genduk jadi melayang pada lelaki Hindustan itu.
Apalagi cuaca lagi mendung dan Ndoro Putri memasang lagu-lagu cinta dari salah satu band pria remaja yang kurang berkenan di telinga Ndoro Kakung –karena menurut beliau syairnya agak ‘kemayu’. Jadinya Genduk menghitung hari eh … menghitung pria-pria yang pernah hadir dalam kehidupan Genduk.
Yah, manusiawi toh. Meski Genduk makarya [bekerja] di kediaman Ndoro Kakung, kalau lagi break kerja atau weekend juga dikasih libur. Kesempatan jalan-jalan pasti terbuka tak sebatas pagar rumah. Jadi kemungkinan untuk jumpa dengan para ‘Pejantan Tangguh’ [istilah dari salah satu lagu Sheila on 7] pastilah terbuka lebar.
Dan jangankan saat libur saja. Kalau Genduk diutus Ndoro Putri belanja ke supermarket, pasar basah atau bahkan mengisi gas elpiji dan segala macam tugas domestik ke luar rumah, sudah pasti bisa ketemu wong lanang, bukan?
Mulai dari siapa atau mana ya menceritakannya? Genduk cerita beberapa saja ya, habis yang menyukai dan atau disukai Genduk buanyaaaaaaak, tapi herannya [atau malah untungnya?] sampai sekarang Genduk masih sendiri juga. Tapi ini juga bukan sebuah sikap permisif hingga Genduk mesti melakukan ancang-ancang ‘tujuh hari mencari cinta’, ya [kalau 30 hari rasanya kelamaan
].
Pria abal-abal [catatan: dibaca sebagai ‘cintanya palsu'] yang mencoba memanah jantung Genduk seperti Dewa Cupid kirim sinyal cinta adalah Mamas’e. Itu, pria pendamba perempuan yang suka kirim bunga.
Meski ganteng dan thukmis alias thutuk lamis atau bermulut manis alias lagi perayu, jelas Genduk lama-lama ogah. Habis, menguras kantong dan cuma jadi ‘boneka’ yang mesti mau dibentuk karakternya agar mirip Juwita –-yang nama panjangnya bisa jadi Juwita Malam.
Wong lanang alias cowok kedua yang nempel di otak Genduk [bukan lagi di hati], adalah seseorang yang pernah bilang ke Genduk, “Nduk, biar ukuran baju kamu bukan ukuran 2 atau 4 [catatan: Genduk sempat mikir, ini kalimat tulus atau menghina, ya? Menurut kamus mode, ukuran 2 sampai 4 boleh disebut ‘petite’. Tapi kalau sudah 8 sampai 12 itu berarti ‘bongsor’], Genduk harus berpenampilan menarik dan rapi.
Tak usah beli baju mahal-mahal, belilah yang pantes [pantas] dan luwes buat Genduk dan sesuai dengan kepribadian [catatan: halah, kepribadian apa toh? Kepribadian ganda?
]. Pakai jeans dan t-shirt juga bisa menarik, Nduk. Sekali-kali dikombinasi dengan baju-baju katun yang santai.
Kalau lagi ingin tampil feminin ya pakailah baju yang feminin. Celana panjang yang feminin juga ada, kok. Pakai rok pun harus disesuaikan.”
Wheladalah, kalimat itu kok lebih panjang dari kata-kata kepunyaan Ndoro Kakung kalau lagi memberi wejangan Genduk, ya? Kesannya pria satu ini pengamat mode sekaligus fashionista banget!
Meski begitu, akhirnya Mas ini [jelas bukan Mamas’e] mengantar Genduk belanja. Membantu memilihkan baju dan dengan sabar mencoba mencari gaya pakaian yang sesuai dengan kepribadian Genduk. Rasanya –seperti nyanyian Tante Titik Puspa— berjuta indahnya. Malu bercampur senang! Akhirnya baju itu jadi kesayangan Genduk. Masih ingat sampai sekarang: atasan blus putih dengan kulot kotak-kotak merah biru. So sweet!
Tapi dasar cerita cinta belum berakhir happy-end, akhirnya dia putus dengan Genduk. Karena ia memang mencari yang cantik fisik juga, sih. Heran deh, orang kok tidak bisa melihat inner beauty.
Kini, kalau lagi malas dandan Genduk jadi teringat gayanya yang sok menasehati padahal itu demi membentuk karakter Genduk nan modis. Capek deh! Tak jauh beda dengan sifat Mamas’e.
Lelaki ketiga adalah seseorang berambut klimis belah pinggir, berbau minyak si nyongyong. Atau lebih tepatnya mencampurkan lebih dari satu jenis wewangian di badan dan kemejanya. Jelas bikin pusing kalau duduknya terlalu berdekatan. Karena yang segar dan yang wangi, bila diaduk jadi satu belum tentu hasilnya lebih paten, ‘kan?
Dia mengaku sebagai ‘petugas Pertamina Dinas Luar’. Luar kota atau luar negeri kah? Itu masih misteri sampai suatu hari teman Genduk melaporkan melihat dia di sebuah pasar tradisional. Tengah menjual minyak tanah! Apalagi saat itu belum ada gerakan Nasional mengganti kompor minyak tanah dengan gas elpiji.
Akhirnya, Genduk putus juga. Bukan tak menghargai profesinya sebagai bakul lenga alias penjual minyak. Namun karena dia tak jujur sedari awal soal pekerjaannya.
Lantas yang keempat, adalah pria yang Genduk temui di kursus komputer [itu rahasianya mengapa Genduk paham soal perkomputeran!]. Dia duduknya bersebelahan dengan Genduk dan kami kenalan. Ternyata tempat dia kerja juga berdekatan tempat kerja Genduk saat itu.
Karena ketemunya di kursus, pembicaraan kami banyak mengenai hal-hal yang berbau intelek. Lama-lama Genduk suka dengan dia, sebagaimana dia pun jadi semakin dekat dengan Genduk.
Ketika masa kursus hampir berlalu dan sudah 2 tahun pula Genduk kenal dia, kelanjutan hubungan kami masih gelap [oppppssss, Ndoro ... ini tak ada hubungannya dengan blog kekasih gelap, ya!]. Genduk merasa ‘mas komputer’ menggantung cinta kami sebagaimana nyanyian Melly Goeslaw.
Mau bertanya, malu. Mau tidak bertanya, lama-lama merasa kesal. Maka Genduk putuskan untuk bilang, “Kok kamu mau sih, berteman sama Genduk?” Ia menjawab santai, “Habis Genduk hebat, sih. Orangnya enak diajak diskusi, berpandangan luas dan bisa diajak santai juga.”
Duohhhhh!!! Ternyata sampai di situ saja keinginannya! Malam itu Genduk meneteskan air mata di pojok tempat kursus komputer.
Sudah ah, segitu dulu Genduk bagi-bagi cerita cinta Genduk. Sebentar lagi mau tidur, biar besok bangun pagi merasa fit dan bisa bekerja dengan prima –sebagaimana disyaratkan Ndoro Kakung.
Ngomong-ngomong, nasib Genduk dan Animesh nanti bagaimana, ya? Apakah semua lelaki sama saja: gombal amoh alias sobekan kain buluk yang pintar membuat hati perempuan berbunga-bunga. Dan dengar saja lagu-lagu sekarang. Beberapa syairnya menjurus permisif untuk diduakan atau jadi tambatan hati sementara. Mulai teman tapi mesra, kekasih gelap [apa saat berjumpa tidak ada satu lampu pun menyala?], buaya darat, ketahuan pacaran lagi sampai jadikan aku yang kedua.
Tobat!
Makanya Genduk jadi tidak heran, kalau seorang kekasih gelap pun punya weblog sendiri. Apakah ini juga powered by Ndoro Kakung, dalam artian ada hubungannya sama penggede domestik Genduk itu? Who knows [kalimat penutupnya kok jadi mirip judul salah satu cerita best seller Guy de Maupassant, ya?
]!
jadi lelaki wel geduwel macam apa yang bisa membuat hatinya mbak gluget- gludet…
sayah jadi Lelaki nomor lima gimana nduk?
*nyisir rambut.. belah tengah..
bravo buat genduk…!
jangan tergoda produk abal2… u deserve a better one, Nduk. ibaratnya, kalo bisa naik mercy, kenapa harus maksa naik bajaj…
@ regsa dan kiyat kiyut … sebagai pria anda bisa mendaftarkan diri ikut seleksi “meminang genduk” yang tentunya akan dibuka dengan resmi oleh ndoro kakung. jadi, ikuti terus perjalanan ‘7 hari mencari cinta’ nya genduk ya, guys
thanks banget.
@ denok …. ya iyalah mbak denok. hare gene kepincut abal-abal, nehi deh!