Jumat pagi di kediaman Ndoro Kakung. Genduk mondar-mandir dari dapur ke ruang makan buat meladeni empat perut yang minta sarapan. Plus –seperti biasa— secangkir kopi pahit agar membuat mata Ndoro Kakung lebih kemepyar alias ‘benderang’.
Meski menebar banyak pesona eh senyum kepada kedua majikan serta putra-putrinya, sebenarnya Genduk tengah merasa feeling blue atau bahasa Inggris nya ‘semedhot’ [catatan: memangnya feeling blue cuma komoditi buat orang macam Ndoro Kakung saja? Tak usyah ya!]. Ini gara-gara kisah per-bunga-an nya dengan Mamas’e yang tak kunjung selesai.
‘Kalau Genduk kirim kembang, itu artinya legitimasi bahwa Genduk ini memang Juwita adanya. Tapi kalau tiada bunga dikirim, nanti Mamas’e tidak cinta lagi,’ batin Genduk galau. ‘Dan ini sudah hari Jumat. Kalau nanti sore nggak kirim kembang, jangan-jangan Mamas’e membatalkan kencan kami. Buktinya, janji e-mail ternyata nggak menulis. SMS pun nggak ada.’
Tengah sibuk dengan kegalauannya itu. Tiba-tiba tampak Jeng Sari berlari-lari lewat pintu samping. “Mas, Mbak …. aku mbok pinjam Genduk sehari, dong! Manto asistenku mendadak sakit subuh tadi, padahal hari ini aku mesti bikin stock shooting di Anyer!” pintanya.
“Pinjam, pinjam!” gerutu Ndoro Kakung selesai menyeruput kopi hitam kentalnya. “Memangnya handphone?”
Ndoro Kakung memandang Genduk dengan posisi kacamata melorot sampai batang hidung. “Ya sudah sana, Nduk! Hari ini kamu di-booking Jeng Sari. Karena Ndoro Putri mu habis ini ngantor dan aku masuk siang, pekerjaanmu aku handle. Tapi besok, benerin genteng belakang serta cuci mobil, ya!”
Haiyah, Ndoro! Mendengar kata ‘pinjam’ dari Jeng Sari keberatan, tapi malah pakai kata ganti ‘booking’. Membolehkan Genduk alih-tugas sementara jadi asisten sepupunya itu, tapi besoknya tak urung dikasih ‘pengayaan’ tugas yang lebih berat. Dasar nggak mau rugi!
Singkat kata, Genduk langsung cabut dari kediaman Ndoro Kakung dan menuju Nissan X-Trail merah Jeng Sari. “Tugasku hari ini jadi batur pembuatan tayangan televisi 4 menit, Nduk!” cerita sepupu Ndoro Kakung sambil mereka berjalan ke mobil yang diparkir di depan gerbang. “Kerjaku serabutan. Bikin skrip sendiri, menyutradarai sendiri, megang kamera juga, bahkan nyari talent sekalian! Nah tugasmu sekarang, adalah jadi asistenku. Serabutan membantu aku ya, Nduk!”
Masuk di kabin tengah si mobil merah, Genduk terpana. Di situ mak bedunduk ujug-ujug [tiba-tiba] sudah ada sesosok pria nan tampan. Wajahnya tidak pure orang Indonesia, tapi juga bukan kulit putih atau kulit kuning langsat. Mirip itu lho, seleb India berngaran Hritik Roshan dan Vivek Oberoi.
“Kamu duduk di belakang sama talent nya ya, Nduk. Karena mbak penata rias duduk di depan sama aku,” kata Jeng Sari saat melihat Genduk berdiri mematung di depan pintu tengah mobil yang terbuka, dengan kondisi hidung kembang-kempis. “Ayo, buruan masuk! Ini model shooting kita hari ini. Kalian kenalan sendiri, ya. Aku mau konsen nyetir mobil.”
Malu-malu, Genduk duduk dan menebar senyum. Pria itu menyambut dengan senyum serta mengulurkan tangan. Sesaat Genduk melirik jam tangannya. Audemars Piquet seperti yang kerap dibanggakan Ndoro Kakung yang kadang kedonyan [sok matre] kah? Ternyata bukan!
Thank God! Berarti, paling tidak … dia tidak matre seperti Ndoro Kakung.
“Animesh!” pria itu menyebutkan nama.
“Genduk!” tukas Genduk sembari mengamati lebih dekat sepasang bola mata kecokelatan itu. Rasanya, telah terjadi sesuatu dalam kepala Genduk. Sesuatu yang diasosiasikan Genduk sebagai pedhot tali bra!
“Tadi saya lihat kamu mengamati jam tangan saya,” pria itu tampak ramah, meski logatnya agak-tidak-Indonesia-tapi-untungnya-bukan-Malesya-nan-menyebalkan. “Belinya di Pasar Ular, kok. Itu tempat belanja yang asyik di Jakarta sini.”
Genduk merasa aneh. Bagaimana kok bisa-bisanya lelaki itu tahu bahwa dia tengah membanding-bandingkannya dengan tabiat Ndoro Kakung. Seperti ada hubungan-pendek-tapi-mesra gitu? Dan yang lebih mengherankan: kemana itu rasa gundah gulana soal per-bunga-an dengan Mamas’e? Mengapa seakan menguap begitu saja?
“Oh ya, Nduk. Animesh ini temanku di situs komunitas traveler dunia. Kami pernah ketemu pas aku traveling di India dan Bhutan. Sekarang dia lagi tugas sebentar di Indonesia,” Jeng Sari ikut nimbrung sambil mengamati sepasang merpati malu-malu eh, sepasang orang yang baru kenalan tadi lewat kaca spion. “Kalian teruskan cerita-ceritanya, Anyer masih jauh.”
Sampai di Anyer, kemesraan tanpa sengaja antara Genduk dan sang model dadakan asal Hindustan terus berlanjut. Apalagi karena crew shooting Jeng Sari cupet [terbatas], maka semua sumber daya manusia yang ada dikerahkan semaksimal mungkin.
Contohnya, Jeng Sari pegang kamera sambil memberi aba-aba dan mengingatkan monolog yang harus diucapkan Animesh. Begitu pula Genduk. Ia dapat tugas memegang reflektor agar cahaya jatuh ke wajah Animesh dengan apik. Ketika mbak penata rias pamit pipis dan dahi Animesh berkeringat [hingga tampak kurang bagus di kamera], tanpa ‘ampun’ Jeng Sari menyuruh Genduk menyeka keringat Animesh.
Dan tanpa sengaja, tangan Animesh memegang tangan Genduk yang tengah menggengam tisu. Kejadian itu tertangkap kamera Jeng Sari dan buntutnya malah, “Yak terus! Aku akan masukkan bagian ini ke dalam scene nanti!”
Duoh!!!! Sungguh, Genduk merasakan excitement yang tidak umum. Perasaan senang-tapi- malu-mau-tapi-takut saat memandang sepasang mata bagus milik Animesh. Duh Gusti! Semoga istilah pedhot tali bra itu segera berlalu dari telinga Genduk. Tidak terngiang-ngiang terus.
Genduk takut, kalau perasaan ‘aneh’ ini miliknya semata sedang Animesh cuma merasa biasa belaka. Rasanya seperti lagi leyeh-leyeh alias bermalasan di kursi goyang milik Ndoro Sepuh –ibunda Ndoro Kakung— lalu kejlungup [tiba-tiba terjerembab]. Wah, malu dong kalau begitu! Seperti lagunya Vonny Sumlang “Ratu Sejagat” yang isinya cuma khayalan seseorang.
Tapi … tunggu dulu! Di akhir shooting sore itu, Animesh membisiki Genduk, “Kapan-kapan kita ketemuan lagi, ya. Saya akan ajak kamu keliling Pasar Ular!”
Wah, seribu gambar kecil-kecil bentuk hati alias heart alias ‘waru’ keluar dari sepasang mata Genduk. Berarti ini bukan impian belaka. Kata Mas Seno Gumira Ajidarma, affair = jalan buntu. Tapi bagi Genduk, affair itu ‘kapok lombok’. Artinya …. cowok ini bisa jadi ‘bahan’ buat dirojer gitu, ganti! So …. goodbye ketombe, eh Mamas’e!
[...] 29th, 2007 by genduk Selesai pra-kencan [artinya belum bisa disebut kencan tapi sudah tahap ‘hubungan-pendek’ alias korsleting] dengan pria tampan asal Hindustan, Sabtu nya, tanggal 27 Oktober kemarin Genduk [...]
idihhh gendukkk…
mosok baru dilirik gitu aja langsung meleleh sih…. story-nya so bollywood deh…
denok yang baik .. namanya cita dan cinta itu mesti diraih. daripada mengharapkan yang tidak ada, yang sukarela datang dan menyapa .. whelah, siapa takut
gitu aja kok repot!
mbak genduk,
jadi witing tresno jalaran seko ra ono liyane, dong…
denok,
genduk menikmati hal-hal secuil yang membuat hati genduk punya sejuta rasa. mau dibilang bollywood dan lain-lain, koridornya “manusiawi”. tapi kalau ‘witing tresna dadeedadeeda …’ ahh, anda bukan sutradara dari gendukblog, deh
[...] 31st, 2007 by genduk Gara-gara korsleting dengan Animesh saat Genduk membantu shooting Jeng Sari di Anyer tempo hari, pikiran Genduk jadi melayang pada [...]
Genduk mak Nyusss ….
ah mbak titis … pakai link nya genduk pula. jahil, ah!
Genduk cah ayu, aku setuju kowe wae. Sing perlu ditekanken yo tulisanmu sing mbok tebalken kui. Beybey mamase.
Mamase kui ra jelas. Thuk mis. Sopir truk jurusan ngendi to nduk?
Wis lah jenenge we sopir. Yo yen ngaso mampir to…
memang orang-orang thukmis itu baiknya ke laut aje, mbak roro ayu
nduk, aku memang sopir, tapi yen ngaso yo ngaso, ora tau “mampir” (itu khan maksute…?) ora kabeh sopir koyo ngono ! ati-2 yen ngomong !!! tak sobek-2…. hehehehe…
waduh, ancamannya kok seram kayak Tukul gitu. maaf lho kalo coretan Genduk bikin mas katrok tersungging. Genduk ndak bermaksud menyakiti siapapun kok. peace….