Rehat kopi kemarin pagi [halah, kamu ini kerja di mana tho, Nduk ... Masak di rumah Ndoro Kakung yang cethil alias kikir itu ada jam istirahat macam di perusahaan kelas kakap?], Genduk tak bisa menahan tawa.
Saat itu, selesai minum teh sekalian nyemil donat oleh-oleh Ndoro Kakung tiga hari lalu yang sudah dipanaskan kembali –ya benar apa yang dikatakan Paman Tyo, bahwa penggede domestik Genduk ini memang cethil adanya— Genduk beberes perpustakaan pating slengkrah yang salah satu koleksi bukunya adalah Seribu Kunang Kunang di Manhattan van Pakde Umar Kayam.
Di antara tumpukan koran yang tengah dirapikan, pandangan Genduk tertuju pada sebuah kolom mirip-mirip kategori ‘Indonesiana’ yang ada di weblog nya Ndoro Kakung. Judul topiknya saat itu “Maling Sensi”. Haiyah! Inilah yang mengundang tawa Genduk.
Syahdan sahibul hikayat di terminal Kampung Melayu, seorang ibu dan satu anak lelakinya naik mikrolet yang tengah ngetem. Kondisi angkot ini masih kosong, cuma ada satu lelaki yang duduk di pojokan.
Sambil memeluk anaknya yang masih berusia 6 tahunan itu, sang ibu berkata pelan, “Hati-hati kalau hidup di Jakarta, ya Nak. Banyak orang jahat, banyak orang yang tega mengasari dan merampas harta milik kita yang tak seberapa. Makanya duduk sini, jangan jauh-jauh dari ibu!”
Di luar dugaan, si lelaki yang duduk di pojokan itu berteriak, “He! Situ jangan nuduh, dong. Yang mau maling harta-bendamu itu siapa?”
Weleh, kok tersinggung? Wong si ibu tadi ngomong ke anaknya, bukan buat ditujukan pada lelaki itu, je! Si ibu pun tak mau kalah. Alhasil keduanya ramai adu mulut. Karena ada keramaian di kompartemen penumpangnya, sang sopir pun ikut andil, eh turun melerai, ditambah kernet dan para penumpang yang akan masuk ke mikrolet.
Supaya si lelaki sadar bahwa pertikaian itu adalah tindakan wagu tur ra mutu [norak sekaligus tanpa guna], seorang yang melerai mengguncang-guncangkan bahunya sambil bilang, “Sudah, Pak! Sudah cukup!”
Tlepok, tlepok, tlepok! Beberapa buah dompet berjatuhan dari kantong si pria itu. Merasa keadaan demikian agak ‘ajaib’, si lelaki pun digiring ke pos polisi terdekat.
“Saya marah, karena tersinggung pada ucapan ibu itu! Yang seolah sudah tahu kalau saya ini maling. Seorang copet!” tuturnya di tengah konferensi pers dalam pos polisi.
“Makanya, jangan sok sensi begitu, ah,” tutur pak kumendan polisi dengan kalem. “Jadinya kamu malah ketahuan, ‘kan?”
Dari kejadian “Maling Sensi” itu, Genduk bisa menarik benang merah. Nggak boleh terlalu sensitive secara emosional alias sensi, kalau memang tidak terlibat atau melakukan hal seperti yang dituduhkan.
Contohnya nggak jauh-jauh, kok. Sejak melahirkan gendukblog yang kenes lagi nayamul [sekali lagi, mbacanya dibalik a’la Kera Ngalam ya, Ndoro. Jadinya ‘lumayan’. Kata ini biasa dipakai kalangan muda sana buat menggambarkan bodi cewek semlohay], tak sedikit komentar menyebut karya Genduk ini adalah hasil rekayasa Ndoro Kakung semata.
Padahal kalau mau ditelisik [halah, apa tho terjemahannya dalam bahasa Indonesia, Ndoro?], bagaimana mungkin seorang Ndoro Kakung alih-rupa menjadi perempuan perkasa eh perempuan nayamul seperti Genduk? Dikasih lipstick dan wig serta berlagak kemayu tidak cukup untuk membuatnya menjadi perempuan. Apalagi dari sudut nguda rasa alias bercinta dengan blog milik orang lain –dalam hal ini Genduk— mana mungkin Ndoro Kakung bisa berbuat, eh melakukannya?
Terus ada juga ‘tuduhan’, bahwa ini sebuah konspirasi agar pamor Ndoro Kakung di jagadblog makin moncer [bersinar]. Halah, teori mana lagi itu? Meski masuk kategori berotak cerdas [lan kemlinthi alias sok tahu], Ndoro Kakung tidak berpolitik seperti –ambil contoh misalnya— di dunia balap Formula Satu atau F1.
Di mana boss Scuderia Ferrari, Luca di Montezemolo menjual mesin eks Ferrari keluaran lama untuk tim F1 Scuderia Toro Rosso milik Gerhard Berger. Jadi, tim papan bawah ini sekaligus ‘dikaryakan’ Montezemolo sebagai tim satelit nya.
Dengan begini, peta kekuatan tim satelit atau bayangan bisa dipantau. Terlebih di sektor performa dan durabilitas mesin. Makin mudah mengontrolnya, sekaligus mengurangi suasana persaingan. Lha bagaimana mau jadi kompetitor sejati, kalau blue print alias cetak birunya sudah ada di tangan tim elite?
Sekali lagi Genduk berkaca pada kejadian “Maling Seksi Sensi” itu. Buat apa berkoar-koar demi sebuah pembuktian, kalau kenyataannya tidak begitu. Biarlah waktu yang membuktikannya. Bener nggak, Ndoro?
Setujuh dengan mbaknya genduk, kenapa harus berkoar-koar kalo ngak ngelakuin…dan daripada ndak daripadanya…wakaka
salam kenal
weits, mantep ki
4 regsa … salam kenal juga!
4 ndoro kakung … itu bukan buat ngebelain ndoro lho, wekekek
saya lama lama penasaran, si genduk ini, waktu ngelamar jadi batur di rumah ndoro kakung, make ijazah apa sih?
Fenomena Maling sensi, sudah banyak di sini, cuman, kejadian kaya “Tlepok, tlepok, tlepok! Beberapa buah dompet berjatuhan dari kantong si pria itu. Merasa keadaan demikian agak ‘ajaib’, si lelaki pun digiring ke pos polisi terdekat.” bagian cerita itu yang belum/sulit terjadi.
jadinya maling nya tetep angkuh.
yaaah..begitulah..
genduk met kenal
salam kenal juga, mas monster…
terima kasih sudah mampir… jangan kapok yaa…
Genduk yang baik
makasih ya mbak titis …. tolong jangan pakai url gendukblog gitu, secara cuma itu harta kekayaan genduk di dunia maya. nggak enak kalau diaku-aku punya orang lain, padahal itu karya genduk asli.
[...] terjadi kesepakatan dengan Bang Eddie [awas, yang namanya mirip jangan sensi lho, ya], Genduk pun langsung nyemplak dengan manisnya. Membonceng a’la priyayi –memangnya cuma [...]