Amerga subal, wis mesti isine abal-abal!
Genduk kesemlengeren [terpana -- terjemahan secara maksanya ke dalam kosakata bahasa Indonesia] mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Jeng Sari. Perempuan ini adalah salah seorang sepupu Ndoro Kakung, yang bekerja sebagai kameramen dan fotografer freelance.
Siang itu Genduk sedang nyapu-nyapu di mezzanine lantai dua, ketika kalimat “Amerga subal, wis mesti isine abal-abal!” tadi berkumandang dari ruang tengah lantai satu, di mana Jeng Sari tengah sibuk memilih foto bersama Ndoro Kakung. Arti kalimat Jeng Sari tadi, ‘Karena tambalan atau sumpal semata, sudah pasti isinya sangat tidak genuine‘.
Rupanya, Ndoro dapat tugas kantor membuat profil perjalanan hidup seorang seleb perempuan. Supaya foto-fotonya kumplit, ia mengerahkan Jeng Sari untuk bongkar-bongkar file lawas hasil jepretan sepupunya itu. Dan Ndoro langsung kemecer [glek!] demi melihat beberapa potret sang seleb yang begitu ‘menantang’.
“Weleh, jian … top markotob tenan dadane, yo!” tukas Ndoro Kakung seraya mengamati potret sang seleb di bawah tambahan penerangan lampu baca.
“Lha yo kuwi ujaranku mau, Mas,” tukas Jeng Sari. “Amerga subal, wis mesti isine abal-abal. Bukan dada asli, jadi ora jaminan mutu! Aku heran banget. Saat dijemput di rumahnya, kondisi dadanya biasa-biasa bae. Tapi saat aku potret di studio dan dadanya dibusungkan, halah kok jadi mbangkok begitu ujudnya.
Sebagai sesama cewek, aku risi. Ini ‘kan bukan content alami?! Dan yang bikin aku tambah heran, kalian para pria kok ya begitu peduli hal-hal fisik beginian, tho? Buktinya, Mas sengaja minta aku nyari potretnya yang menggambarkan ke-bangkok-annya itu. Haiyah!”
Oalah, ini percakapan tentang subal dada alias silicone utawa breast implant surgery sebagai bagian dari beauty regiment buat mempercantik manusia berjenis kelamin sama dengan Genduk, tho!
Weleh, Genduk jadi teringat pada sebuah blabag [papan] bertuliskan “Kawasan Bebas Silikon” yang menempel di atas pintu kamar teman Genduk di rumah sebelah. Waktu itu Genduk iseng nanya, “Apa toh maksud-te?”
Sang Genduk tetangga itu dengan senyum simpul menyahut, “Ya punya dada asli tanpa subal ‘kan harus bangga tho, Nduk. Ora perlu ngapusi [ngibul], lan terhindar dari ancaman penyakit. Jangan dikira subal ki ora ana pengaruhe lho. Misalnya subalanmu gombal amoh, ‘kan njur [lantas] membuka peluang kulitmu jadi panuan.”
Halah, dasar Genduk sebelah nggak modal dalam membuat sebuah deskripsi. Hare gene kok subal pakai gombal amoh alias secarik kain buduk. Ya pakai silikon, dong! Ooops …. tapi apa dengan meninggalkan gombal amoh dan pakai zat asing yang di-implant alias ditanam di bawah kulit berarti meminimalkan risiko hadirnya penyakit?
Genduk pikir, kadang beauty regiment perempuan itu “enak di dia nggak enak di saya” maksudnya, enak di mata lelaki [bisa jadi] membuat derita bagi pihak wanita. Contohnya ya silikon subal dada ini.
Tiba-tiba Genduk terngiang pada guyonan tidak bermutu alias ‘bermutu-sih-tapi-rendah-kualitasnya’ dari beberapa teman lelakinya yang bikin singkatan ‘wongso subali’, akronim dari ‘wonge ra sepira ning susune sak bal voli’ atau bahasa Inggrisnya “orangnya tak seberapa, tapi payudaranya semantap bola voli”.
Bagi Genduk, ungkapan ini sangat sexiest. Lebih dari sekadar pedhot tali bra tempo hari!
Suatu hal yang bikin Genduk geleng kepala: kenapa ya, mayoritas pria –bukan semua lho, awas kalau Ndoro ikut-ikut salah paham– mesti pakai parameter hal-hal yang berkaitan dengan fisik?
Padahal, wajah, buah dada oh maksudnya payudara sampai betis yang ‘bunting padi’ itu ‘kan bonus dari Gusti Allah. Bisa disebut sebagai aksesori. Justru ‘isi’ di dalamnya itulah yang jauh lebih penting. Seperti hati, isi kepala, attitude serta perilaku.
Genduk masih ingat pada salah satu cerita Jeng Sari, “Sekretaris di kantorku yang lama itu ya, Nduk … dipandang sekilas, cuantiiik! Tapi begitu lima menit kamu ngobrol sama dia, waduh … kebloonannya sudah terlihat lebih dominan.”
Itu artinya, beauty is beyond the skin depth. Inner beauty lebih penting dari hal-hal yang tampak oleh mata. Dan Genduk -untungnya- tetap mempercayai hal ini. Subal dada? Nehi, deh!
genduk, posting-posting mu sungguh jitu mengundang tawa. aku bikin link, ya. biar gampang kalau lagi butuh hal-hal yang mengundang tawa. tentunya selain “langganan” sowan blog ndoro kakung mu sing ana-ana bae kae!
Ndoro Bedhes itu kalo liat dada Ade Rai juga demen lho.
“beauty is beyond the skin depth” artinya, jadi cantik kalo udah ganti kulit sampe ke dalem…..
4 paman tyo …. hihihi, genduk baru tahu rahasia ini! terima kasih ya diberi tahu
4 jeng ukirsari … maaf ya baru direspons sekarang. sumangga, dengan senang hati buatlah tautan. biar jagadblog genduk makin moncer. semoga ndoro kakung nggak ngiri
nanti genduk juga sowan-sowan ke blognya jeng ukirsari ya.
ganti kulit sampe dalem? chemical peeling, gitu maksudnya??? hihihii…
[...] artikel yang mungkin saja terkait; BlogOhBlog: Ganti Skin, ganti Kulit, ganti template subal gendukblog Sekarang Baru Sombong Beneran… Ganti kulit Blog Sekali lagi Cara Instal [...]
[...] Bukan bulenya itu yang bikin Genduk ngeces lho. Gini-gini, biar kemayu, tapi Genduk ndak gampang ngiler sama laki2 berbungkus bagus. Takut terjebak produk abal-abal. [...]