Beberapa saat lalu, Genduk kedatangan tamu ber-ngaran Tia di lembar pertama pengeblogan gendukblog. Menurut perempuan yang bermukim di Semarang ini, ada hal daripada rasanan Genduk yang mengingatkannya pada Umar Kayam.
Tak mengapa. Bukan karena memper [mirip] atau tidaknya itu yang Genduk akan kedepankan sebagai topik, melainkan justru Pakde Umar Kayam nya.
Bicara soal beliau, Genduk jadi teringat pada Ndoro Kakung. Bukan soal mirip-tidaknya secara fisik dan perwajahan, ya. Tapi karena penggede domestik alias kepala rumah tangga di mana Genduk bekerja ini telah mengenalkan Genduk pada perpustakaan keluarga. Tepatnya sebuah ruangan terbuka dekat teras yang dipenuhi buku pating slengkrah.
“Kamu kalau lagi nggak ada kerjaan mbok jangan nonggo [cuma main-main ke tempat tetangga] tanpa guna tho, Nduk. Mending baca-baca buku ben tambah pinter nanging ora kemlinthi [biar tambah pengetahuan tanpa jadi sok tahu],” sabda Ndoro Kakung.
Nah, dari koleksi buku Ndoro Kakung, Ndoro Putri, Den Ayu dan Den Bagus, salah satu buku Pakde Umar Kayam jadi favorit Genduk. Judulnya Seribu Kunang Kunang di Manhattan.
Gara-gara tulisan Pakde Umar Kayam, Genduk jadi berangan-angan suatu hari sampai di New York, tepatnya di Manhattan. Boleh dong berkhayal. Memangnya keinginan macam begini cuma komoditi Jeng Sari –yang dijuluki Ndoro Kakung sebagai ‘Nona Sok Sadar Wisata’— atau Ndoro Kakung sendiri?
Makanya, saat Jeng Sari membikinken akun [kok jadi aneh ya, kata ‘akun’ ini? Mengapa tidak sederhana saja sebagai ‘account’] surat elektronik [yang disebut juga sebagai imel, versi Indonesia dari e-mail] dan menanyakan, “Mau pilih tempat domisili mana, Nduk?” Kontan Genduk menjawab bersemangat, “New York, Jeng! New York.”
Masih ada pertanyaan lanjutannya. “Terus lokasi pasnya mana? SoHo atau Manhattan?” Waduh, ya Manhattan lah pasti! Apalagi, Genduk pernah nonton serial televisi ‘Sex and The City’. Jadi ingin alih profesi sebagai batur elit di salah satu kota tersibuk di dunia itu rasanya!
Maaf, jangan tertawakan kalau ‘selera’ dan ‘paradigma’ Genduk tetap ingin jadi batur alias abdi alias helper, ya. Karena bagi Genduk pribadi, selama masih ada atasan yang memerintah dan berkuasa di atas kita, namanya tetap saja batur, lho.
Hanya karena seiring zaman dan merunut pada perasaan kinasih para pemberi mandat atau pun penggede alias atasan, maka penyebutan jadi berbeda-beda dan makin trendy dari hari ke hari, disesuaikan dengan bidangnya.
Termasuk Ndoro Kakung, yang memanggil batur alias ubab [cara Kera Malang begini, Ndoro, mbacanya dibalik ya!] dengan sebutan kenes: ‘Genduk’. Walau Genduk juga tahu kadang Ndoro Kakung masih semena-mena, wong Genduk disebut sebagai bedinde. Ini buktinya.
Kembali ke soal pemilihan kota, Jeng Sari masih mengulang pertanyaannya. “SoHo itu jalanannya romantis lho, Nduk. Cemilannya juga enak-enak. Singkatannya juga keren, ‘South of Hollywood’. Siapa tahu ketemu seleb-seleb Hollywood, apa nggak kepengen?”
“Aduh, Jeng Sari! Kepengen sih. Tapi saya tetap mau ditulis domisili Manhattan!”
Begitulah. Akhirnya Genduk punya tempat tinggal di New York, United States of America. Walau itu cuma sebatas khayalan. Ditulis di KTP pun tidak. Tapi …. di akun surat elektronik ‘kan tertera demikian. Cihuuuy!!!!!
Makanya, pas beli sambel goreng krecek kesukaan Ndoro Putri di warung gudeg Ginuk, saat menunggu pesanan dibungkus Mbah Wongso –maestro gudegnya warung Ginuk— dan ngobrol sama Bang Joppie, tukang ojek di depan warung, dengan bahagia Genduk pamer.
Bahwa tempat tinggal Genduk sekarang di Manhattan. Meski cuma ada di dunia maya, siapa saja yang meng-klik profil Genduk, akan selalu membaca alamat tempat tinggalnya yaitu di … Manhattan, New York. Lengkap dengan kode pos nya!
“Wah, kamu pengen lihat Manhattan, Nduk?” Bang Joppie manggut-manggut. Mungkin sambil berpikir, ‘Dimana sih tempat itu berada?’
Saat Genduk masih mikir-mikir bagaimana caranya menjelaskan mengapa Manhattan pada Bang Joppie, tiba-tiba bahunya ditepuk ojeker itu.
“Nduk, Abang ngarti tuh … Manhattan ‘kan nggak jauh-jauh dari sini!”
“Maksud lo?”
“Kamu pikir Bang Joppie ini kagak ngarti Inggris?” kata tukang ojek itu sambil senyum-senyum. “Man itu artinya dalam bahasa Indonesia apa coba?”
“Man?” tanya Genduk. Dia mengingat-ingat isi buku Longman Dictionary of Contemporary English kepunyaan Ndoro Putri. “Manusia bisa, laki-laki bisa.”
“Kalau ‘hat’?”
“Topi dong, Bang!”
“Nah! Manhattan itu pan artinya … Laki-laki bertopi. Hat-an, gitu. Ya bertopi, ‘kan? Kenapa mesti jauh-jauh? Di sini juga banyak! Tuh, Ndoro Kakung mu kalau lagi kepanasan juga pakai topi!”
Duooh!!!!! !@#$%^&* kok jadi begini sih isi obrolan sama Bang Joppie?! Tolongin [lagi] dong, Ndoro!
ha ha ngantuk ku kok jadi ilang, baca postingan ini.
salam kenal buat genduk..
@ kw: salam kenal kembali dari saya, mas
manhatan itu kodepos nya berapa nduk?
jangan trll byk bahasa jawa ny dong mba’…
bukan ny ga ngerti conten ny tp hrs mikir lama dulu bwt bisa ngerti krn kebanyakan bhs.jawa ny itu..
tp bgs2 qo postingan ny…
keep on posting ya..
jeng angel…
maap kalo kebanyakan bahasa jawa dan bikin berpikir keras. lha itu bahasa ibunya Genduk je… jadi agak susah ngilanginnya. semoga mbak angel ndak bosan yaa… thanks for dropping by…