Ndoro Kakung itu memang very genuine. Bayangkan saja, di sini beliau menulis tentang cara deskripsi anak-anak kost [putri] yang menggambarkan bahwa lelaki yang menggemaskan itu adalah yang mampu membuat pedhot alias putus tali bra alias brasserie atau beha alias lagi breast holder.
Genduk ini jadi ingin tahu, mengapa Ndoro menuliskan hal itu sebagai yang ekspresi yang sangat orisinal, sekaligus lugu dan wagu, ya? Dan lebih menggelikan lagi karena di situ ada komentar yang menyebut diri sebagai ‘cah semin’ dan menyatakan ingin menunggui perempuan mana yang mau diputus tali bra nya, di depan dia!
Hmmm, berarti dia nggak menyimak cerita Ndoro dari depan, dong. Yang dimaksud ‘cah semin’ [dan oppps ada yang bakal protes] ‘kan tokoh utama si pencurhat. Jadi ya bukan dia, dong yang menjadi objek nya. Justru subjek nya dan bukan yang tali bra nya bermasalah!
Berbincang soal tali bra yang sederhana tapi jadi ruwet karena dijadikan idiom untuk menggambarkan seorang pria, Genduk melihat banyak pro dan kontra di dalamnya. Paling mendasar, ketidaksepakatan bahwa ‘kok perempuan sampai segitunya [dalam mendeskripsikan]‘.
Bagi Genduk yang perempuan ini, “pedhot tali beha” itu justru memang genuine adanya. Cara membentuk kalimat, berasosiasi serta mencetuskan idiom tiap orang berbeda. Begitu pula perempuan. Mas pengomentar nomer satu yang mengatakan “kirain cuma lelaki yang bisa * sensor *” itulah yang bagi Genduk merefleksikan sebuah ketidaktahuan yang juga … genuine. Asosiatif buat pria dan wanita mungkin berbeda, tapi jangan heran kalau para Genduk juga bisa punya inspirasi –ya, lebih kepada inspirasi dan cetusan dibanding arti secara fisik– yang nggak kalah dahsyat dibanding pria
Dan satu lagi, Ndoro Kakung kali ini kecolongan, deh. Masa beliau kira teman yang curhat padanya itu adalah yang pertama membuat kata mutiara eh idiom “pedhot tali beha”. Para Genduk ‘kan sudah lama menggunakan kalimat ini untuk menggambarkan betapa pandangan seorang pria itu sangat “hmmm”. Wekekek!
Tapi satu hal yang Ndoro mengerti betul. Yang memang benar adanya. Yaitu bahwa Genduk tak sebatas menilai secara fisik dalam menggambarkan keseksian seorang pria. Lanang ngganteng tanpa utek kuwi sama dengan ngapusi. Artinya, pria tampan kalau nggak encer otaknya atau nggak punya ‘isi’ kepala sama aja bohong. Ora ngganteng babar blas! Dan bikin para Genduk … capek deh
test test test …. para genduk …. yukz ….
hahaha … apik-apik … kreatif, nduk!
aneh…aku kok jadi inget tulisanne umar kayam ya…
[...] Genduk dalam dilema kembang nih. Tolongin Genduk dong, mohon enlightment… Genduk pasrah bongkokan deh. FYI, Mamas’e ini masuk kategori medhotke tali beha… [...]
walaupun hubungan genduk sudah sampai tahap ‘poto2an preweding’ tapi kenapa tali beha genduk ‘anti pedhot’ yah..??
tanya kenapa?
[...] Genduk, ungkapan ini sangat sexiest. Lebih dari sekadar pedhot tali bra tempo [...]
buat denok anti pedhot…
kalo ndak pedhot2, ada 2 kemungkinan :
1. tali beha-ne baja kualitas impor
2. “pemotong” yg diajak poto2 masih kurang mumpuni
[...] 25th, 2007 by genduk Beberapa saat lalu, Genduk kedatangan tamu berngaran Tia di lembar pertama pengeblogan gendukblog. Menurut perempuan yang bermukim di Semarang ini, ada hal daripada rasanan [...]
[...] “Genduk!” tukas Genduk sembari mengamati lebih dekat sepasang bola mata kecokelatan itu. Rasanya, telah terjadi sesuatu dalam kepala Genduk. Sesuatu yang diasosiasikan Genduk sebagai pedhot tali bra! [...]