Wahai para Genduk, kelahiran gendukblog ini memang dahsyat dalam pandangan Ndoro Kakung saya. Bayangkan, baru kutak-katik komputer sebentar, posting beberapa artikel, eh … sudah ketahuan oleh beliau dan direspon dengan gayanya yang khas, “Ayo Nduk, Ndoromu dibikinken kopi dulu … ojo manis-manis yo!”
Lha, itu maksudnya menyemangati atau nambah kerjaan?
Seharusnya ‘kan beliau itu menepuk bahu Genduk dan berkata, “Wah, apik tenan, Nduk! Sajak resep [terlihat mengena], postinganmu setara dengan dapuranmu [wajahmu].” Halah! Kok malah membahas sesuatu yang fisik. Maksudnya, yang wujudnya support begitu loh.
Tapi ya sudahlah. Namanya Ndoro Kakung ya begitu itu. Kalau kopi ya kopi. Kopi tidak akan jadi ‘bisa dikopi rojer, ganti!’ seperti bahasa orang-orang main radio komunikasi antar penduduk. Ini asli minta dibikinkan kopi minuman.
Dan sekali lagi, dasar Ndoro Kakung. Zaman sudah berganti. Saya yang udik saja sudah pernah bikin kopi a’la bandara [mestinya di kafe juga ada, ya. Tapi saya ‘kan ndesit, masa masuk ke dapur sebuah kafe?].
Itu tuh, yang pakai dispenser segala macem. Pencet kopinya tombol buat memilih biji kopi. Lalu biarkan kopinya digerus otomatis dan tambahkan air panas serta susunya dari tombol yang lain. Begitu juga cara membuatnya jadi manis. Tinggal tambah gula via tombol.
Mau tahu apa kata Ndoro soal kopi versi bandara Genduk ini? “Kopi kok rasanya rendaman gombal amoh!” Lha …. itu artinya harus kembali ke laptop versi orisinal bikin kopi. Dua sendok kopi racikan dhewek. Tambah sedikit gula, diaduk sama air mendidih sungguhan. Artinya, jangan coba-coba pakai dispenser air mineral yang bisa memanaskan air. Karena lidah peka kopi Ndoro akan berteriak, “Ini versi lain gombal amoh, Nduk!”
Toh sekali waktu Genduk berhasil mempedaya Ndoro Kakung. Ceritanya, extended family saya yang terdiri dari Ndoro Kakung, Ndoro Putri, Den Bagus dan Den Ayu jalan-jalan ke Semarang. Kami menginap di family suite sebuah hotel kuno yang katanya sudah direnovasi [tetap saja angker ya, Ndoro?].
Tahu sendirilah, sebagai Inem saya sibuk beberes, mencari santapan pantas buat sekeluarga di kamar suite kami serta mencari siaran yang pas buat ditonton semua orang. Di tengah kesibukan itu, sebuah teriakan khas terdengar nyaring di telinga, “Nduk … mbok Ndoro mu ini dibikinkan kopi!”
Ya siapa lagi si empunya suara, kalau bukan Ndoro Kakung.
Karena saat itu tangan Genduk sedang membereskan kotak bekal anak-anak Ndoro, Genduk langsung mengacungkan pakai tangan kanan pada Ndoro Kakung. Apa itu? Kopi [ko].
“Halah Nduk, sejak kapan kopi wedang dadi permen tho, yo?” sungutnya. Woooo, Ndoro! Memang enak, lagi sibuk ditambahi kerjaan lagi? Genduk juga manusia, Ndoro … [tiru-tiru lagunya Serieus. Maafken ya, Ndoro
]
pertama
ndoro kakungmu kuwi konvensional bab kopi utawa ra tau njajal kopi versi bandara tho, nduk? kok menyebutnya sebagai “rasa gombal amoh” lha wis tau ngincipi kum-kuman gombal amoh berarti, huehehe … peace nggih, ndoro!!!!
[...] memberi komentar di salah satu posting gendukblog. Ditambah lagi komentar saat Genduk menghidangkan kopi. Begini ujarannya, “Kamu mbok kreatif dengan pekerjaanmu. Lihat ini ada Cewek Ndeso yang lebih [...]