Genduk-genduk teman seperjuangan, bagaimana dengan Lebaran kalian di kampung?
Saya sebagai seorang Genduk agaknya termasuk yang beruntung. Dikasih Ndoro Kakung dan garwanya libur lumayan lama sebelum Lebaran tiba -jadi bisa sowan emak-bapak duluan serta melakukan upacara bersih makam, acara wajib sebelum dan menjelang Syawal- lalu ketika Lebaran diajak melancong ke Malesya dan Singapur.
Jujur saja, perjalanan sempat ‘terganggu’. Gara-gara putri Ndoro kelihatan nggak sudi banget kami sekeluarga [eh benar tokh, majikan saya berdua dan dua putra-putrinya itu adalah bagian keluarga saya, extended family saya?] mendarat di Malesya.
Meski belum begitu dewasa -lha makanya kedua orangtuanya masih memfungsikan saya sebagai Mbok Emban bagi anak-anaknya- putri Ndoro yang cerdas dan gemar membaca dan mengikuti berita televisi itu kesal karena info soal wasit Indonesia yang dipukuli Polisi Diraja Malesya. Lantas ada istri diplomat Indonesia yang paspornya dikira ngibul. Dan yang tidak kalah ‘panas’ adalah soal lagu rakyat Maluku terkenal “Rasa sayange” yang digubah menjadi “Rasa sayangHe” –cara cerdik agar tidak bisa digugat– lalu digunakan menjadi backsound pariwara pariwisata Malesya di mana-mana.
“Pokoknya kita harus pulang, pulang!” Den Ayu jerat-jerit begitu pesawat mendarat di bandara KLIA. “Untung ya kita beli tiket one-way jadi pulangnya nggak harus balik sini lagi,” bisik Ndoro Kakung pada saya eh pada garwanya, Ndoro Putri.
Akhirnya, kunjungan kami di Malesya dipercepat. Cuma ke Kuala Lumpur dan Melaka, lalu sesudahnya naik bus langsung ke Singapur.
Kenapa harus mampir Melaka dulu? Karena di sini kami jalan-jalan seharian menikmati suasana kota tua yang pernah diduduki Inggris, Belanda, Portugis sekaligus pemukiman Cina Peranakan alias Chinese Born Strait itu. Segala macam kisah sejarah, bangunan historis dan tua ini adalah minat Den Bagus, kakaknya Den Ayu.
Hal yang membuat saya [akhirnya] sangat berpihak pada Den Ayu [tapi kalau rasa sayang, sudah dari dulu saya menyayangi putra-putri Ndoro saya], adalah saat naik teksi dari Melaka menuju terminal bus antarnegara yang akan membawa kami ke Johor Bahru dan Woodland, perbatasan Semenanjung Malesya dengan Singapur.
Karena teksi isi meksimem adalah empat orang, Ndoro Kakung, Ndoro Putri dan Den Ayu naik teksi kedua. Saya dan Den Bagus naik teksi pertama. Mau dengar apa kalimat pembuka sopirnya yang orang asli Malesya kepada kami berdua?
“Anda pasti orang Filipina, ya?” tanyanya dalam bahasa Inggris.
“Maksud lo?” tanya saya sambil memasang seatbelt Den Bagus.
“Karena kalau Anda orang Indon pasti sudah nenteng barang belanjaan banyak sekali!”
Stop! Stop! Saya menggebrak bahu PakCik Sopir hingga dia terkaget-kaget.
Saya menarik tangan Den Bagus seraya berteriak pada si sopir tak tahu adat itu. “Muke lu jauh! Dasar bandot, kadal, tukang contek, tukang menyamaratakan orang. Tak tahu adat!” saya bersumpah serapah pada Pakcik itu.
Dan saya bergabung masuk ke teksi kedua yang [untungnya] belum jalan karena menunggui teksi satu jalan duluan.
Gimana tuh wahai para Genduk? Harusnya saya perlihatkan keandalan saya bertinju juga atau tidak?
asyiiik ada blog bagus lagi…
nambah satu koleksi lagi nih..
harusnya dikasih satu dua jurus silat indonesia… (mumpung belum diakuinya pula…)
harusnya diberi satu dua jurus silat indonesia… (mumpung belum diakuinya pula…)
jijik gue juga sama si malingsia.. coba ya mereka tuh muka badak banget ga tau malu.. dasar negara ga punya jatidiri miskin budaya seni dan kreativitas…
buka aja malingsia.com yg ciptain website itu gue doain masuk surga hihihihi
ah gue bentar lagi meninggalkan malingsia dan kembali ke tanah air.. tercinta.. ora sudi balik ke malingsia lagi. kalo ga terpaksa juga ga bakal!!
cheers
mbak didi, thanks buat kunjungannya. oh, bisa disebut malingsia juga ya? truely maling di asia begitu
ya benar, ati-ati ya, mbak. cepatlah pulang!
salam
–genduk–